Airlangga Ungkap Tiga Faktor Utama di Balik Pulihnya IHSG ke Zona Hijau | IVoox Indonesia

February 5, 2026

Airlangga Ungkap Tiga Faktor Utama di Balik Pulihnya IHSG ke Zona Hijau

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto dalam pebukaan Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta pada Selasa (3/2/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar 

IVOOX.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan dengan bergerak ke zona hijau pada perdagangan Selasa (3/2/2026) siang. Pada penutupan sesi I, IHSG tercatat menguat 1,57 persen ke level 8.047,22. Penguatan ini menandai kembalinya optimisme pelaku pasar setelah tekanan yang sempat membayangi bursa dalam beberapa waktu terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pergerakan positif IHSG mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik. Menurutnya, sentimen tersebut tidak terlepas dari berbagai agenda reformasi yang tengah dijalankan pemerintah bersama otoritas pasar modal, khususnya yang berkaitan dengan penguatan integritas dan transparansi bursa.

Salah satu indikator penting yang disoroti Airlangga adalah kembalinya aliran modal asing ke pasar saham Indonesia. Setelah dua pekan berturut-turut mencatatkan arus keluar dana asing (net outflow), pasar modal kembali mencatatkan arus masuk dana asing (net inflow). Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa investor merespons positif langkah-langkah pembenahan yang dilakukan.

“Kalau kemarin kita lihat lebih dari 600 billion itu net inflow asing. Jadi 2 minggu terakhir net outflow tapi kemarin net inflow. Dan pagi ini masuk jalur hijau,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Airlangga kemudian memaparkan tiga poin krusial dalam reformasi pasar modal yang menjadi pendorong utama meningkatnya kepercayaan pasar. Poin pertama adalah upaya peningkatan likuiditas melalui penambahan porsi saham yang beredar di publik atau free float. Pemerintah mendorong agar emiten meningkatkan porsi free float guna menciptakan pasar yang lebih likuid dan kompetitif.

“Reform pasar modal kan tadi saya sudah sampaikan. Bahwa tentu ada beberapa hal yang penting yaitu peningkatan daripada likuiditas dari minimal 7,5 atau 10 sampai dengan 15 persen (free float),” kata Airlangga.

Poin kedua berkaitan dengan penguatan aspek keterbukaan informasi atau disclosure. Pemerintah dan otoritas pasar modal memperketat standar transparansi dengan menurunkan ambang batas kewajiban pengungkapan kepemilikan saham. Jika sebelumnya hanya pemegang saham di atas 5 persen yang wajib mengungkap identitasnya, kini kewajiban tersebut diperluas hingga kepemilikan 1 persen.

Selain itu, pengungkapan juga mencakup pemilik manfaat akhir atau Ultimate Beneficiary Owner (UBO). Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor dengan memastikan struktur kepemilikan perusahaan tercatat secara jelas dan akuntabel.

Poin ketiga menyangkut konsistensi pemerintah dan regulator dalam menjalankan reformasi pasar modal secara menyeluruh. Airlangga menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang agar lebih kredibel dan berdaya saing.

0 comments

    Leave a Reply